Selama ini kita banyak membahas bagaimana AI mulai menggantikan peran Google dalam riset produk atau jasa orang bertanya ke ChatGPT atau Gemini, mendapat rekomendasi, lalu baru mencari sendiri untuk membeli. Tapi ada satu langkah lagi yang bergerak cepat di luar negeri, dan masih cukup asing di Indonesia: agentic commerce kondisi di mana AI tidak hanya memberi rekomendasi, tapi langsung mengeksekusi pembeliannya sendiri, mewakili kita.
Ini yang di industri disebut agentic commerce. Bedanya dengan yang biasa kita bahas (GEO, di mana brand hanya "disebut" oleh AI) cukup jauh di sini AI benar-benar memegang kendali sampai transaksi selesai.
Apa Itu Agentic Commerce , Sesimpelnya
Alur belanja online selama ini kira-kira begini: kamu buka marketplace, cari produk, bandingkan harga, baca review, masukkan ke keranjang, isi alamat, lalu bayar semua dilakukan manual, langkah demi langkah.
Di agentic commerce, alurnya berubah. Sebagai ilustrasi saja (bukan kutipan dari kasus nyata): kamu cukup bilang ke AI, "carikan sepatu lari waterproof di bawah Rp1,5 juta, dikirim sebelum Jumat" lalu AI yang melakukan riset, membandingkan toko, mengecek stok dan harga, sampai menyelesaikan transaksinya. Kamu tinggal memberi batasan (budget, preferensi), sisanya diserahkan ke AI.
Tiga bentuk agentic commerce yang sudah berjalan di dunia:
Agen sisi konsumen — AI berbelanja mewakili satu orang. Contohnya ChatGPT dengan Instant Checkout, Perplexity lewat browser Comet, atau fitur belanja di Google AI Mode.
Agen sisi bisnis — AI otomatis melakukan reorder stok kantor, memperpanjang langganan software, sampai membayar invoice tanpa campur tangan manusia.
Agen ke agen (machine-to-machine) — dua sistem AI saling bertransaksi sendiri, biasanya untuk pembayaran kecil seperti biaya API atau data.
Sudah Sejauh Mana di Luar Negeri
Ini bukan lagi wacana beberapa perusahaan besar sudah benar-benar menjalankannya:
OpenAI meluncurkan fitur beli langsung di dalam ChatGPT lewat Agentic Commerce Protocol (ACP), bekerja sama dengan Stripe, sejak September 2025. Per awal 2026, protokol ini sudah memproses transaksi nyata untuk Etsy dan sedang diperluas ke lebih dari satu juta merchant Shopify.
Google meluncurkan Universal Commerce Protocol (UCP) pada 11 Januari 2026 di konferensi NRF — standar terbuka yang memungkinkan AI berinteraksi langsung dengan katalog produk toko dan menyelesaikan pembelian. UCP dikembangkan bersama Shopify, Etsy, Wayfair, dan Target, lalu didukung lebih dari 20 mitra lain termasuk Walmart, Visa, Mastercard, dan Stripe. Checkout berbasis UCP mulai berjalan di AI Mode Google Search dan aplikasi Gemini menggunakan Google Pay.
Riset McKinsey memproyeksikan agentic commerce bisa menggeser 3 hingga 5 triliun dolar AS belanja retail global pada 2030.
Riset akademis terbaru misalnya makalah "What Is Your AI Agent Buying?" yang diunggah di arXiv mulai meneliti apakah AI agent ini benar-benar rasional saat berbelanja, atau justru punya bias dan pola keputusan yang berbeda dari manusia, termasuk potensi berlebihan (overspending) dalam transaksi tertentu.
Menariknya, adopsi konsumen sebenarnya masih hati-hati. Beberapa laporan industri tahun ini menunjukkan penggunaan AI masih terkonsentrasi di tahap awal perjalanan belanja sekitar 62% untuk perbandingan produk, tapi baru sekitar 23% yang sampai ke tahap checkout dan 19% ke aktivitas pascapembelian. Artinya mayoritas orang masih nyaman sebatas AI membantu riset dan membandingkan produk, sementara kepercayaan untuk membiarkan AI menyelesaikan pembayaran secara penuh masih perlahan dibangun, bukan langsung diterima begitu saja.
Bagaimana Polanya di Indonesia Sudah Jalan atau Belum?
Ini bagian yang paling relevan buat kita. Jawaban jujurnya: belum sampai ke tahap "AI membeli sendiri" secara luas, tapi fondasinya sudah mulai dibangun dan langkah pertama menuju integrasi resmi ternyata sudah dimulai lebih cepat dari yang terlihat sekilas.
Beberapa pola yang sudah terlihat di Indonesia:
Chatbot bergeser jadi AI Agent, tapi mayoritas masih di layanan pelanggan. Banyak bisnis Indonesia mulai berpindah dari chatbot berbasis skrip kaku ke AI Agent yang lebih pintar bisa memproses pesanan, mengirim pengingat pembayaran otomatis, bahkan memproses refund. Tapi ini masih di ranah customer service automation, bukan AI yang meriset dan memutuskan pembelian sendiri lintas toko.
Shopee sudah mengumumkan langkah pertama ke arah agentic shopping. Pada 19 Februari 2026, Shopee mengumumkan kemitraan strategis dengan Google untuk membangun prototipe AI agentic shopping yang rencananya diintegrasikan ke platform Shopee. Ini masih tahap prototipe, belum peluncuran penuh seperti UCP di Amerika, tapi menunjukkan bahwa marketplace besar Indonesia sudah mulai bergerak ke arah ini lebih cepat dari yang mungkin terlihat dari luar.
Infrastruktur pembayaran mulai disiapkan untuk "dijalankan" AI. Penyedia payment gateway lokal sudah mulai membuka jalur khusus supaya sistem AI bisa membuat link pembayaran, generate QRIS, atau mengecek status transaksi secara otomatis. Ini fondasi teknis penting kalau nanti agentic commerce benar-benar masuk penuh ke Indonesia, infrastruktur pembayaran seperti inilah yang akan menjadi jembatannya.
Belum ada protokol terbuka setara UCP atau ACP yang aktif penuh di marketplace Indonesia. Berbeda dengan Amerika, di mana Google dan OpenAI sudah punya standar terbuka yang dipakai ratusan merchant secara langsung, di Indonesia belum ada marketplace besar yang mengumumkan integrasi protokol terbuka serupa secara penuh langkah Shopee di atas masih tahap kemitraan dan prototipe, bukan peluncuran fitur checkout otomatis untuk publik.
Contoh terdekat juga datang dari negara tetangga. Di Thailand, salah satu jaringan retail besar sudah meluncurkan fitur asisten belanja AI yang bisa menyusun keranjang belanja otomatis dari permintaan pelanggan dan menyiapkannya untuk dibayar dalam hitungan detik. Ini menunjukkan agentic commerce sudah mulai masuk ke Asia Tenggara dan dengan langkah Shopee di Indonesia, jaraknya mungkin lebih dekat dari perkiraan awal.
Polanya jelas: Indonesia saat ini berada di fase "AI membantu keputusan", dengan langkah-langkah awal menuju "AI mengeksekusi keputusan" sudah mulai terlihat lewat kemitraan seperti Shopee-Google tapi belum ada peluncuran penuh yang bisa dipakai publik.
Kenapa Ini Penting Dipikirkan dari Sekarang
Kalau tren global ini benar-benar sampai ke Indonesia dalam skala penuh, artinya brand tidak cukup hanya dikenal AI (lewat GEO), tapi juga perlu memastikan data produknya bisa dibaca dan dieksekusi oleh sistem AI harga, stok, spesifikasi, dan kebijakan pengiriman harus rapi dan konsisten. Yang "berbelanja" bukan lagi manusia yang bisa memaklumi info kurang jelas, melainkan sistem yang membutuhkan data terstruktur untuk memutuskan.
Inilah sebabnya membangun kredibilitas dan visibilitas di era AI lewat GEO dan struktur data yang rapi bukan cuma soal "biar disebut AI" hari ini, tapi juga persiapan untuk fase berikutnya: saat AI yang tadinya cuma merekomendasikan, mulai ikut membelikan.
FAQ
Apa beda agentic commerce dengan chatbot belanja biasa? Chatbot biasa hanya menjawab satu pertanyaan lalu menyerahkan keputusan ke manusia. Agentic commerce lebih jauh AI mengejar satu tujuan lewat beberapa langkah sekaligus (riset, bandingkan, putuskan, dan bisa mengotorisasi pembayaran) dengan supervisi manusia yang minim.
Apakah agentic commerce sudah bisa dipakai penuh di Indonesia sekarang? Belum. Yang sudah ada baru AI Agent untuk layanan pelanggan, otomasi pembayaran manual (generate QRIS, cek status transaksi), dan satu kemitraan awal Shopee dengan Google, Februari 2026 yang masih tahap prototipe. Protokol terbuka setara UCP atau ACP belum diluncurkan penuh untuk publik oleh marketplace besar Indonesia.
Kalau belum jalan penuh, kenapa brand di Indonesia perlu peduli sekarang? Karena fondasi teknisnya (data produk terstruktur, integrasi pembayaran otomatis) butuh waktu untuk dibangun, dan langkah awal seperti kemitraan Shopee-Google menunjukkan arahnya sudah mulai bergerak. Brand yang mulai merapikan data dan visibilitas AI-nya dari sekarang akan lebih siap begitu agentic commerce benar-benar masuk penuh ke pasar Indonesia, dibanding yang baru mulai saat tren itu sudah berjalan.
Referensi
Eco — panduan agentic commerce 2026, tiga bentuk agen (konsumen, bisnis, machine-to-machine): eco.com/support/en/articles/14839400-what-is-agentic-commerce-the-2026-guide
Fin AI — proyeksi McKinsey dan detail UCP/ACP: fin.ai/learn/what-is-agentic-commerce
Allouah, A., Besbes, O., Figueroa, J., Kanoria, Y., & Kumar, A. (2025). What Is Your AI Agent Buying? arXiv: arxiv.org/pdf/2508.02630
Google Developers Blog — Under the Hood: Universal Commerce Protocol (UCP): developers.googleblog.com/under-the-hood-universal-commerce-protocol-ucp/
Search Engine Land — Google launches Universal Commerce Protocol for agent-led shopping (Jan 2026)
Krungsri Research — laporan Agentic Commerce Asia Tenggara, contoh kasus Big C Thailand: krungsri.com/en/research/research-intelligence/agentic-commerce-2026
Olakses — Shopee Gandeng Google Bikin AI Agentic (Feb 2026): olakses.com/shopee-gandeng-google-bikin-ai-agentic-apakah-cara-belanja-akan-berubah/
Udesk Global — pergeseran chatbot ke Agentic AI dalam customer service di Indonesia: id.udeskglobal.com/blog/dari-chatbot-ke-agentic-ai-masa-depan-otomatisasi-customer-service-di-indonesia
DOKU — infrastruktur MCP Server untuk integrasi AI Agent dengan pembayaran QRIS/VA: doku.com/blog/ai-agent-yang-bisa-verifikasi-pembayaran-sendiri
Antara News — transformasi AI bisnis Indonesia dari chatbot ke AI Sales Agent: megapolitan.antaranews.com/berita/544771/transformasi-ai-nasional-bergeser-dari-chatbot-ke-agen-cerdas